<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Weblog of Novia Agustiar Rahmat &#187; Tuan Guru Bajang</title>
	<atom:link href="http://opik.unitiga.com/tag/tuan-guru-bajang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://opik.unitiga.com</link>
	<description>Selalu rindu akan baris-baris code</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Mar 2010 16:55:25 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Biografi Tuan Guru Bajang</title>
		<link>http://opik.unitiga.com/2009/09/22/biografi-tuan-guru-bajang/</link>
		<comments>http://opik.unitiga.com/2009/09/22/biografi-tuan-guru-bajang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 18:43:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>opik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nahdlatul Wathan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuan Guru Bajang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://opik.unitiga.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[Maulana Syekh Zainuddin Abdul Majid terkenal memiliki tingkat keilmuan yang tinggi tentu tidak mudah mengambil keputusan memberikan gelar pada seseorang. Hanya lantaran hubungan darah atau karena kecintaannya kepada seseorang, melainkan adanya ketajaman spiritualitas yang dimiliki.
Almagfurullah Maulana Syekh Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan satu satunya organisasi yang lahir di NTB, dengan segenap kemampuan dia membina [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://opik.unitiga.com/wp-content/uploads/2009/09/tuanguru.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-285" title="TGB L. Gede M. Zainuddin At Sani" src="http://opik.unitiga.com/wp-content/uploads/2009/09/tuanguru.jpg" alt="TGB L. Gede M. Zainuddin At Sani" width="150" height="201" /></a>Maulana Syekh Zainuddin Abdul Majid terkenal memiliki tingkat keilmuan yang tinggi tentu tidak mudah mengambil keputusan memberikan gelar pada seseorang. Hanya lantaran hubungan darah atau karena kecintaannya kepada seseorang, melainkan adanya ketajaman spiritualitas yang dimiliki.</p>
<p>Almagfurullah Maulana Syekh Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan satu satunya organisasi yang lahir di NTB, dengan segenap kemampuan dia membina dan berjuang sehingga perkembangan organisasi tersebut seperti sekarang ini.<span id="more-284"></span></p>
<p>Dari rahim istri-istrinya hanya dikaruniai 2 orang putri, Hj. Rauhun dari rahim istrinya Hj. Johariah dan Hj. Siti Raihanun Zainuddin Abdul Majid ( Ketua PB NW sekarang) terlahir dari wanita keturunan ulama asal Jenggik Lombok Timur Hj. Rahmatullah. Dari kedua putri tersebut terlahir 12 orang cucu laki dan perempuan.</p>
<p>Dari keduabelas cucunya hanya satu cucu yang dinobat dan dipercaya mampu menggantikan perjuangannya membesarkan organisasi NW yang dengan susah payah dibangun. Cucunya tersebut adalah Tuan Guru Bajang KH Lalu Gede Muh Zainuddin Atsani, terlahir dari pasangan, Drs. H. L.G. Wiresentane – Hj Siti Raihanun Zainuddin AM, pada 6 Januari 1981 silam di tempat kelahiran kakeknya, Rumah Desa (Gedeng Dese), waktu lahir yang memberikan nama beliau adalah Maulana Syaikh sendiri dengan nama Zainuddin Atsani, dengan harapan, kelak kalau sudah dewasa bisa menggaantikan posisinya untuk membimbing ummat dan melanjutkan perjuangan organisasi NW.</p>
<p>Satu-satunya istri Maulana Syekh yang masih hayat, Hj. Rahmatullah yang juga nenek tuan Guru Bajang KH. Lalu Gede Muh. Zainuddin Atsani, kepad wartawan tabloid ini menuturkan kisah kelahiran sosok Tuan Guru Bajang KH Lalu Gede Muh. Zainuddin Atsani. Memiliki keturunan ulama motivasi awal perkawinan antara Maulana Syekh dengan istrinya Hj. Rahmatullah beliau satu-satunya istri yang dipilihkan oleh orang tua Maulana Syekh, TGH. Abdul Majid. Karena Hj. Rahmatullah ini keturuanan seorang ulama dengan harapan agar keturunannya nanti bisa melahirkan seorang ulama pula.</p>
<p>“Sejak saya berumur 10 tahun orang tua Tuan Guru (TGH Abdul Majid) sudah membicarakan dengan orang tua saya untuk menikahkan saya dengan tuan guru. Padahal pada saat itu saya tidak pernah berfikir untuk menika, saya bilang sama TGH. Abdul Majid bahwa saya tidak akan menikah sampai tua”, tutur Hj. Rahmatullah.</p>
<p>Pada saat Hj. Siti raihanun mengidam anak-anaknya, nenek Hj. Rahmatullah selalu mendapatkan firasat dan pertanda bahwa Hj. Raihanun akan hamil, “setiap anakku, hamil selalu dijaga sama ular dan selalu saya bermimpi dan melihat sesuatu”, tuturnya.</p>
<p>Namun yang aneh, katanya, Tuan Guru Bajang KH Lalu Gede  Muh. Zainuddin Atsani dia tidak melihat apa-apa dan tidak dijaga ular seperti cucunya yang lain. Ternyata pertanda kehamilan itu diketahui oleh Maulana syekh, kala itu Maulana syekh memerintahkan dirinya untuk membuka semua jahitan pakaian Jh. Siti raihanun. “Saya disuruh untuk melepaskan semua jahitan pakaian yang biasa dikenakan hj. Siti Raihanun untuk disimpan, raihanun akan hamil tolong lepaskan semua jahitan pakaian yang dikanakannya dan disimpan” tutur Hj. Rahmatullah meniru perkataan suaminya.</p>
<p>Ketika Tuan Guru Bajang Lalu Gede Muh. Zainuddin Atsani lahir dalam keadaan bersih tanpa darah, Maulana syaikh langsung menimangnya sambil memperhatikan seluruh badan cucunya. Hal ini berlangsung selama beberapa hari sebelum diberikan nama, tidak lama kemudian Hj. Rahmatullah dipanggil Maulana syeikh, “ ni wah pengentikku, iye taok jak turunan aranku, Zainuddin Atsani ye jari arannan” ( ini sudah yang akan menggantikan saya, di (Zainuddin Atsani) yang akan menggantikan namaku, Namanya Zainuddin Tsani) tutur Hj. Rahmatullah lagi-lagi menirukan perkataan Maulana Syaikh kala itu.</p>
<p>Bahkan maulana syekh mempercayakan keturunan Tuan Guru Bajang Lalu Gede Muh. Zainuddin Atsani yang akan mewarisi nama Zainuddin selanjutnya. Keturunan Tuan Guru Bajang Lalu Gede Muh. Zainuddin Atsani yang laki nantinya akan menjadi Zainuddin Tsalits (Zainuddin ke tiga) dan seterusnya.</p>
<p>Secara fisikpun antara kakek dan cucu ini bagai pinah dibelah dua. Selain itu dalam perjalanan pendidikannya juga sama. Itu artinya selain secara fisik Tuan Guru Bajang Lalu Gede Muh. Zainuddin Atsani, juga sama dalam riwayat pendidikannya,  Maulana syaikh adalah alumnus Madasah As-shaulatiyah Makkah Al Mukarramah. Sebelum wafat beliau berpesan agar Tuan Guru Bajang Lalu Gede Muh. Zainuddin Atsani melanjutkan studynya ke tempat dirinya mengenyam pendidikan terakhirnya.</p>
<p>Tuan Guru Bajang Lalu Gede Muh. Zainuddin Atsani tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang konsisten terhadap masalah keagamaan sebagaimana figur seorang Tuan guru pada umumnya. Meskipun gelar Tuan guru Bajang yang ia sandang, namun tidak pernah menunjukkan rasa sombong pada setiap orang. Interaksi sosialnya yang tidak pernah membedakan antara eleman masyarakat yang satu dengan yang lainnya membuat siapa saja yang bertemu dengannya selalu merasa kagum.</p>
<p>Sumber : www.tuangurubajang.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://opik.unitiga.com/2009/09/22/biografi-tuan-guru-bajang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raden Tuan Guru Bajang KH L.G. M. Zainuddin Atsani</title>
		<link>http://opik.unitiga.com/2008/07/25/raden-tuan-guru-bajang-kh-lg-m-zainuddin-atsani/</link>
		<comments>http://opik.unitiga.com/2008/07/25/raden-tuan-guru-bajang-kh-lg-m-zainuddin-atsani/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 00:01:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>opik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nahdlatul Wathan]]></category>
		<category><![CDATA[Lombok]]></category>
		<category><![CDATA[Tuan Guru Bajang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://opik.unitiga.com/2008/07/25/raden-tuan-guru-bajang-kh-lgmzainuddin-atsani/</guid>
		<description><![CDATA[Dikalangan Organisasi Nahdlatul Wathan (NW) sudah tidak asing lagi nama Tuan Guru Bajang KH Lalu Gede Zainuddin Atsani. Sebuah nama yang mewarisi nama pendiri NW Almagfurulah Maluna Syaikh Zainuddin Abdul Majid. Penamaannya memang dihajatkan sebagai penerus perjuangan dalam membesarkan organisasi islam  terbesar di  NTB. Beliau lahir 6 Januari 1981 di tempat kelahiran kakeknya, Rumah Desa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 106px"><img title="Tuan Guru Bajang KH L.G. M. Zainuddin Atsani" src="http://opik.unitiga.com/wp-content/uploads/2008/07/zainuddin-atsani.thumbnail.gif" alt="Tuan Guru Bajang Zainuddin Atsani" width="96" height="128" /><p class="wp-caption-text">Tuan Guru Bajang KH L.G. M. Zainuddin Atsani</p></div>
<p>Dikalangan Organisasi Nahdlatul Wathan (NW) sudah tidak asing lagi nama Tuan Guru Bajang KH Lalu Gede Zainuddin Atsani. Sebuah nama yang mewarisi nama pendiri NW Almagfurulah Maluna Syaikh Zainuddin Abdul Majid. Penamaannya memang dihajatkan sebagai penerus perjuangan dalam membesarkan organisasi islam  terbesar di  NTB. Beliau lahir 6 Januari 1981 di tempat kelahiran kakeknya, Rumah Desa (Gedeng Dese).</p>
<p>Beliau terlahir dari pasangan, Drs. H.L.G. Wiresentae &#8211; Hj St Raihanun Zainuddin AM, putri bungsu maulanasyaikh. Waktu lahir yang memberikan nama beliau adalah maulansyaikh sendiri ddengan nama Zainuddin Atsani, dengan harapan kelak kalau sudah dewasa bisa menggatikan posisinya untuk membimbing ummat dan melanjutkan perjuangan organisasi NW. Dari sejak itu beliau selalu dipanggil Tuan Guru Bajang kendati usiannya sangat belia. Maulanasyaikh pada setiap pengajian, beliau selalu menyebut Zainuddin Atsani dengan sebutan Tuan Guru bajang. Sejak saat itulah nama Tuan Guru Bajang dikenal dikalangan warga NW dan masyarakat Lombok pada umumnya. Tak ada yang tidak mengenal sosok Tuan Guru bajang Zainuddin Atsani. Pada masa kecilnya selalu dalam bimbingan sang kakek. Tidak heran kemudian kalau putra dari PB NW, Umuna Hajjah Siti Raihanun Zainuddin Abdul Majid, tumbuh dan berkembang sebagaimana kakeknya.<span id="more-93"></span></p>
<p>Secara fisikpun antara kakek dan cucu ini bagai pinang dibelah dua. Selain itu dalam perjalanan pendidikannya juga sama. Itu artinya selain secara fisik Tuan Guru Bajang KH Lalu Gede Zainuddin Atsani, juga sama  dalam riwayat pendidikannya. Maulana Syaikh adalah alumnus Madrasah As-Shaulatiyah Makkah Al Mukarramah. Sebelum Wafat beliau berpesan agar Zainuddin Atsani melanjutkan studynya ke tempat dirinya mengenyam pendidikan terakhirnya.<br />
Tuang Guru Bajang tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang konsisten terhadap masalah keagamaan sebagaimanana figure seorang Tuan Guru pada umumnya. Meskipun gelar Tuan Guru Bajang yang ia sandang, namun tidak pernah menunjukkan rasa sombong pada setiap orang. Interaksi sosialnya yang tidak pernah membedakan antara elemen masyarakat yang satu dengan yang lainnnya membuat siapa saja yang bertemu dengannya selalu merasa kagum.</p>
<p>Menurut penuturan para tokoh NW, sejak kecil Tuan Guru bajang Zainuddin Atsani, terus dibawa oleh kakek untuk menerima tamu besar, pergi mengisi majlis taklim, dan selalu dibawa pada acara-acara besarorganisasi NW. “Dari Syimahnya (wibawa red) beliau mirip dengan pembawaan datoknya. Beliau pendiam, kalem namun cukup disegani banyak orang,”katan TGH Mahmud Yasin, QH., salah seorang tokoh NW dan  orang dekat maulanasyaikh.  “Tuan Guru Bajang sangat mirip dengan kakeknya, Al-Magfurulah Zainuddin Abdul Majid, dari sikap dan tutur sapanya yang santun, tidak banyak bicara, namun ketika berbicara kata-kata yang keluar sungguh penuh makna,”kata Tuan Guru H. Saefuddin Zohri yang ingin terus mengabdikan dirinya turut berjuang bersama figure muda harapan NW masa depan.</p>
<p>Kini jamaah NW sudah merasa teduh lagi dengan kehadiran Tuan Gurn Bajang KH Lalu Gede Zainuddin Atsani yang selalu memberikan tausiyah-tausiyah yang sama ketika pendiri NW masih hayat. “Jama’ah NW sangat bangga dengan Tuan Guru Bajang yang tidak ingin terjun dalam dunia politik, kami akan selalu mendukung keinginan  beliau yang ingin konsisten dengan organisasi dan tidak tergoda bujuk manisnya perkembangan zaman,”katanya. NW memang sangat membutuhkan figure yang seperti dimiliki Tuan Guru bajang yang hanya ingin mengabdikan diri pada perjuangan membesarkan organisasi yang di dirikan kakeknya.  Sosok yang di idolakan dalam sebuah organisasi besar seperti NW.</p>
<p>Karena NW akan besar apabila ada seseorang yang hendak berhidmat hanya untuk organisasi, dan bukan malah ingin mengurus yang lain walaupun dengan alasan dan membawa-bawa nama organisasi dalam perjuangan, namun dalam hatinya demi kepentingan probadi semata. “Maulana Syekh berpesan bahwa penyandang gelar Tuan Guru bajang tidak diperkenankan masuk politik, karena politik tidak kenal bersih, NW adalah organisasi yang kuat memegang ajaran islam yang bersih,”katanya.</p>
<p>Sumber : http://www.radiodewianjani.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://opik.unitiga.com/2008/07/25/raden-tuan-guru-bajang-kh-lg-m-zainuddin-atsani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maulana Syekh dan Tuan Guru Bajang Zainuddin Atsani</title>
		<link>http://opik.unitiga.com/2008/04/23/maulana-syekh-dan-tuan-guru-bajang-zainuddin-atsani/</link>
		<comments>http://opik.unitiga.com/2008/04/23/maulana-syekh-dan-tuan-guru-bajang-zainuddin-atsani/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 16:58:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>opik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nahdlatul Wathan]]></category>
		<category><![CDATA[Lombok]]></category>
		<category><![CDATA[Tuan Guru Bajang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://opik.unitiga.com/2008/04/23/maulana-syekh-dan-tuan-guru-bajang-zainuddin-atsani/</guid>
		<description><![CDATA[Almagfurullah Maulana Syekh Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan satu satunya organisasi yang lahir di NTB, dengan segenap kemampuan dia membina dan berjuang sehingga perkembangan organisasi tersebut seperti sekarang ini.
Sebagai seorang panutan, Maulana Syekh hidup dengan memegang teguh ajaran Islam bermazhab Syafi’iyah. Keteguhan dalam memegang ajaran agama diimplementasikan dalam keidupannya, baik sebagai seorang pemimpin umat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Almagfurullah Maulana Syekh Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan satu satunya organisasi yang lahir di NTB, dengan segenap kemampuan dia membina dan berjuang sehingga perkembangan organisasi tersebut seperti sekarang ini.</p>
<p>Sebagai seorang panutan, Maulana Syekh hidup dengan memegang teguh ajaran Islam bermazhab <em>Syafi’iyah</em>. Keteguhan dalam memegang ajaran agama diimplementasikan dalam keidupannya, baik sebagai seorang pemimpin umat maupun sebagai kepala rumah tangga. Bagaimanapun cintanya terhadap seseorang, namun kalau salah menurut agama, unsure-unsur subjektivitasnya- pun tidak akan mampu mengalahkan hukum agama yang melekat dalam dirinya. <span id="more-73"></span></p>
<p>Salah satu bukti, kendati istrinya (Hj. Johariyah) sedang mengandung putri pertama Hj. Rauhun padahal dari ke 4 istrinya dia adalah satu-satunya istri yang bisa hamil kala itu, walaupun sudah lama menikah, normalnya tentu akan memberikan rasa sayang yang lebih, namun yang terjadi malah diceraikan 40 hari menjelang melahirkan. Perceraian dilakukan karena sang istri melanggar aturan yang digariskan agama. “Maulana Syekh adalah orang yang betul-betul hidup sesuai dengan hukum islam. Tidak pandang siapa-siapa kalau salah menurut agama beliu akan bersikap tegas” tutur TGH. Saefuddin di Mataram kemarin.</p>
<p>Seperti itulah suasana keagamaan yang dikembangkan Maulana Syekh entah sebagai pemimpin organisasi, warga Negara, pemimpin umat, maupun sebagai kepala keluarga. Dari rahim istri-istrinya hanya dikaruniai 2 orang putri, Hj. Rauhun dari rahim istrinya Hj. Johariah dan Hj. Sitin Raehanun Zainuddin Abdul Majid (ketua PB NW sekarang) terlahir dari wanita keturunan ulama asal Jenggik Lombok Timur Hj. Rahmatullah. Dari kedua putri tersebut terlahir 12 orang cucu laki dan perempuan. Dan sebagai seorang ulama besar tentu merindukan seorang pengganti yang akan meneruskan perjuangannya membesarkan organisasi. Dari semua cucunya Zainuddin Atsani, satu-satunya cucu yang diberikan gelar tuan guru bajang yang diberikan Almagfurullah Maulana Syekh, bahkan gelar tersebut diberikan sejak Zainuddin bisa berjalan dalam usia 9 bulan.</p>
<p>“Ia dipangil Tuan Guru Bajang oleh Tuan Guru ( Maulana Syekh) sejak baru bisa berjalan, dan usianya baru 9 bulan” tutur Umi Hj. Rahmatullah istri Maulana Syekh yang masih hidup pada wartawan di Mataram. Sejak itulah Zainuddin Atsani dikenal sebagi Tuan Guru Bajang oleh masyarakat. Dan mendapat perlakuan yang cukup positif dari jamaah sebagai obat kekhawatiran saat Maulana Syekh wafat. “Kalau Maulana Syekh wafat masih ada Tuan Guru Bajang Zainuddin Atsani sebagai panutan kami Tuan Guru Bajang HLG Zainuddin Atsani adalah Zainuddin ke 2 setelah Almagfurullah, sesuai namanya Zainuddin Atsani, ujar salah seorang tokoh NW, Ust. Mawardi.</p>
<p>Maulana Syekh yang terkenal memiliki tingkat keilmuan yang tinggi yang tidak tentu mudah mengambil keputusan untuk memberikan gelar pada seseorang. bukan lantaran Zainuddin Atsani adalah seorang cucu, namun karena Zainudin Atsani memang telah memiliki keunikan tersendiri sejak masih dalam kandungan, buktinya dari 7 cucu laki-laki tidak satupun dari mereka diberi gelar Tuan Guru Bajang kecuali Tuan Guru Bajang Zainuddin Atsani.</p>
<p>Rupanya gelar Tuan Guru Bajang yang diberikan pada cucunya ini merupakan motivasi awal perkawinan antara Maulana Syekh dengan istrinya Hj. Rahmatullah yang konon satu-satunya istri yang dipilihkan oleh orang tua Maulana Syekh, TGH. Abdul Majid. Karena Hj. Rahmatullah ini keturunan seorang ulama dengan harapan agar keturunannya nanti bisa melahirkan seorang ulama pula. “Sejak saya berumur 10 tahun orang tua Tuan Guru (TGH Abdul Majid) sudah membicarakan dengan orang tua saya untuk menikahkan saya dengan tuan guru. Padahal pada saat itu saya tidak pernah berfikir untuk menikah, saya bilang sama TGH Abdul Majid bahwa saya tidak akan menikah sampai tua” tutur Hj. Rahmatullah.</p>
<p>Baru setelah Hj. Rahmatullah berumur 20 tahun dinikahkan dengan Maulana Syekh dan setelah 15 tahun usia perkawinan baru dikaruniai seorang putri, Hj. Siti Raehanun Zainuddin Abdul Majid (ibunda Tuan Guru Bajang HLG Zainuddin Atsani) pada saat Hj. Siti Raehanun mengidam anak-anaknya, Hj. Rahmatullah selalu mendapatkan firasat dan pertanda bahwa Hj. Siti Raehanun akan hamil, “setiap anakku, Hj. Siti Raehanun hamil selalu dijaga sama ular dan selalu saya bermimpi dan melihat sesuatu” tuturnya. Namun yang aneh, katanya, Zainuddin Atsani dia tidak melihat apa-apa dan tidak dijaga ular seperti cucunya yang lain. Ternyata pertanda kehamilan itu diketahui oleh Maulana Syekh , kala itu Maulana Syekh memerintahkan dirinnya untuk membuka semua jahitan pakaian Hj. Siti Raehanun. “Saya disuruh untuk melepaskan semua jahitan pakaian yang biasa dikenakan Hj. Siti Raehanun untuk disimpan, Raehanun akan hamil tolong lepaskan semua jahitan pakaian yang dikenakannya dan disimpan” tutur Hj. Rahmatullah meniru perkataan suaminya.</p>
<p>Ketika Zainuddin Atsani lahir dalam keadaan bersih tanpa darah Maulana Syekh langsung menimangnya sambil memperhatikan seluruh badan cucunya. Hal in berlangsung selama beberapa hari sebelum diberikan nama, tidak lama kemudian Hj. Rahmatullah dipanggil Maulana Syekh, <em>“ni wah pengentikku, iye</em> <em>taok jak turunan aranku, Zainuddin Atsani ye jari aranan”</em> ( ini sudah yang akan menggantikan saya, dia (Zainuddin Atsani) yang akan menggantikan namaku, Namanya Zainuddin Atsani) tutur Hj. Rahmatullah lagi-lagi menirukan perkataan Maulana Syekh.</p>
<p>Bahkan Maulana Syekh mempercayakan keturunan Zainuddin Atsani yang akan mewarisi nama Zainuddin selanjutnya. Keturunan Zainuddin Atsani yang laki nantinya akan menjadi Zainuddin Atsalits (Zainuddin ke tiga) dan setrusnya. Masa kecil Zainuddin Atsani selalu didekat dan kasih sayang kakeknya, nama Tuan Guru Bajang diberikan saat Zainuddin Atsani baru bisa berjalan, Tuan Guru Bajang mulai dikenal dikalangan jemaah NW saat dirinya selalu diikutkan pengajian-pengajian pada saat usia balita hingga beranjak remaja, bahkan Tuan Guru Bajang kerapkali menggantikan kakeknya menghadiri pengajian, bila sang kakek berhalangan hadir, walaupun masih kecil kerapkali menggantikan niniknya mengadiri pengajian, dia cukup duduk saja dan pengajian diisi oleh Masyaekh Ma’had, para jamaah merasa cukup antusias dengan kehadiran Zainudin Atsani yang masih kanak-kanak yang hanya sekedar duduk menggantikan kakeknya, kata Ust. Asror yang pernah menghadiri suatu pengajian yang diwakili Zainuddin Atsani.</p>
<p>Hingga menjelang wafatnya Maulana Syekh, Tuan Guru Bajang banyak mendapatkan wasiat yang bersifat khusus dalam upaya meneruskan perjuangan kakeknya membesarkan organisasi NW untuk umat dan masyarakat. “Saya berharap warga NW tetap bersatu merapatkan barisan dibawah ketua umum PB yang sah Hj. Siti Rehanun Zainuddin Abdul Majid, sesuai wasiat ninik, PB itu satu bukan dua atau tiga, itu yang harus kita pegang teguh sebagai warga NW” inggat Tuan Guru Bajang HLG Zainuddin Atsani dalam setiap pengjiannya.</p>
<p>Sumber : http://lotengpers.wordpress.com/profile-tokoh/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://opik.unitiga.com/2008/04/23/maulana-syekh-dan-tuan-guru-bajang-zainuddin-atsani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
