Perpindahan Pusat Nahdlatul Wathan terjadi karena pada Muktamar ke-10 Ummi Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid terpilih menjadi Ketua Umum PBNW. Sebagian orang Pancor tidak setuju dengan keputusan Muktamar tersebut. Mereka beralasan bahwa wanita tidak boleh menjadi pemimpin organisasi. Padahal dalam Mazhab Syafi’I tidak ada larangan bagi wanita untuk menjadi pemimpin organisasi. Maulana Syaikh sendiri selaku pendiri Nahdlatul Wathan merestui wanita menjadi pemimpin. Beliaulah yang mengangkat Hj.Sitti Rauhun menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah Mu’allimat NW Pancor.

Beliau juga mengangkat Ummi Hj. Baiq Zuhriyah Mukhtar menjadi kepala Madrasah Aliyah Mu’allimat NW Pancor dan menjadi ketua Pondok Pesantren Az-Zuhriyah Nahdlatul Wathan Tanjung Lombok Timur. Beliau juga merestui Baiq Sa’diyah menjadi Kepala Desa Teratak Lombok Tengah dan lain-lain.

Ketidaksetujuan sebagian orang Pancor ini diwujudkan dengan meneror para masyayikh, para dosen, para Pengasuh, para siswa, santri, mahasiswa dan thullab Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW Pancor yang mendukung hasil Muktamar ke-10 sehingga mereka enggan masuk melaksanakan tugas belajar mengajar. Ketidaksetujuan mereka ini juga diwujudkan dengan membuat kerusuhan di pancor pada tanggal 6,7 dan 24 September 1998. Dalam kerusuhan ini toko TGH.Mahmud yasin dirusak dan isinya dijarah atau dibakar, rumah TGH lalu Anas Hasyri di rusak, Drs. Abdurrahman Fajri dan Qoharuddin dianiaya dan dipukul dengan senjata tajam dan lain-lain. Bukan saja kerusuhan yang mereka perbuat bahkan mereka juga merencanakan pembunuhan terhadap pendukung Muktamar Praya. Padahal para pendukung Muktamar Praya dari kalangan masyayikh, dosen dan pengasuh di Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW Pancor itu adalah kader-kader NW yang loyal dan taat kepada wasiat Maulana Syaikh. Dengan demikian, otomatis kondisi pendidikan di Pancor menjadi kocar-kacir dan kacau balau. Nah, untuk menyelamatkan proses pendidikan tersebut maka sejak tanggal 26 Oktober 1998, Ummi Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid selaku Ketua Umum PBNW, putri pendiri Nahdlatul Wathan sekaligus penerima kuasa, beliau memerintahkan seluruh orang-orang yang taat dan loyal kepada wasiat Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid untuk berhijrah ke Kalijaga. Di Kalijagalah tempatnya direncanakan pendirian Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan. Setelah 2 tahun 14 hari di Kalijaga maka Ummi Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid memerintahkan untuk berhijrah lagi ke Anjani Kecamatan Suralaga Lombok Timur NTB, Tempat Pembangunan Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan. Sejak tanggal 1 Muharram 1422 H./26 Maret 2001 M. Insya’Allah sampai akhir zaman pusat kegiatan Organisasi Nahdlatul Wathan adalah Anjani Kecamatan Suralaga Lombok Timur dan pusat perguruan Nahdlatul Wathan adalah Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani Lombok Timur. Di Pondok Pesantren inilah tempat berkumpulnya para tuan guru dan tokoh Nahdaltul Wathan yang taat pada wasiat Maulana Sayaikh yang sekaligus merupakan kepercayaan beliau pada saat masih hayat. Sehubungan dengan itu, telah dikenang oleh warga Nahdlatul Wathan bahwa Kalijaga adalah Quba’ Nahdlatul Wathan dan Anjani adalah Madinah Nahdlatul Wathan.

Dengan demikian, sejak adanya hijrah dalam organisasi Nahdlatul Wathan maka Pancor bukan lagi menjadi pusat Nahdlatul Wathan karena sudah dipindahkan ke Anjani.

Kini Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan tumbuh dengan pesat. Pondok Pesantren ini sedang dan akan dibangun di atas tanah seluas 23 hektar. Pada tahun 2001, Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani mengelola beberapa jenis lembaga pendidikan, seperti Madrasah Tsanawiyah Mu’allimin, Madrasah Tsanawiyah Mu’allimat, Madrasah Aliyah Mu’allimin, Madrasah Aliyah Mu’allimat, SMU, Ma’had Darul Qur’an wal Hadits Nahdlatul Wathan, Institut Agama Islam HAMZANWADI, dan beberapa Fakultas umum. Selain itu, di Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW telah ada Kopontren, Radio Dewi Anjani, dan lain-lain. Pada waktunya nanti, INSYA’ALLAH, semua jenis dan jenjang pendidikan akan diadakan dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Begitu juga sarana penunjang pesantren modern lainnya seperti asrama, Perpustakaan, pertokoan, rumah sakit, dan lain-lain.

 

Sumber : Buku “Mengenal Nahdlatul Wathan” karangan TGH. Abdul Hayyi Nukman, M.Pd.I

Hizib Nahdlatul Wathan:

 

File-file dibawah ini dapat anda download melalui http://www.zippyshare.com/NahdlatulWathan

  1. Hizib Nahdlatul Wathan.mp3
  2. Wasiat Renungan Masa.mp3
  3. Alloh Huakbar.mp3
  4. Anjani.mp3
  5. Awas Kiamat Sudah Dekat.mp3
  6. Bapak Kiyai Hamzanwadi.mp3
  7. Beguru Ngaji.mp3
  8. Bergembira Hatiku.mp3
  9. Cinta Maulana – New Compile.mp3
  10. Inaq Amaq.mp3
  11. Madrasah NW.mp3
  12. Ma’had Sine.mp3
  13. Ma’had Sumber Perjuangan.mp3
  14. Mars NWDI.mp3
  15. Mars Nahdlatul Wathan.mp3
  16. Nahnufit Yanul Ulum.mp3
  17. NW Intisari Wasiat.mp3
  18. Pacu Gama’.mp3
  19. Rindu Ku Ucapkan.mp3
  20. Rindu Ku Ucapkan Padamu Guru.mp3
  21. Satui Jati.mp3
  22. Serah Anakde Beguru Ngaji.mp3
  23. Takriz Al-Maghfurlah.mp3
  24. Ta’sis NWDI.mp3
  25. Antiya Pancor.mp3

Raden Tuan Guru Bajang
KH. Lalu Gede M. Zainuddin Atsani, Lc., M.Pd.I.

Disusun Oleh:
Biro Dakwah dan Penerangan PW NW NTB

 

A. Kelahiran, Asal Muasal Pemberian Nama Zainuddin Atsani dan Tuan Guru Bajang

Al-Maghfurlah Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang panutan, yang memegang teguh ajaran Islam bermazhab Syafi’i. Keteguhan dalam memegang ajaran agama diimplementasikan dalam kehidupannya, baik sebagai seorang pemimpin umat maupun sebagai kepala rumah tangga. Bagaimanapun cintanya terhadap seseorang, namun kalau salah menurut agama, unsur-unsur subjektivitasnya-pun tidak akan mampu mengalahkan hukum agama yang melekat dalam dirinya.

Seperti itulah suasana keagamaan yang dikembangkan Maulana Syaikh entah sebagai pemimpin organisasi, warga negara, pemimpin umat, maupun sebagai kepala keluarga. Dari rahim istri-istrinya hanya dikaruniai 2 orang putri, Hj. Rauhun dari rahim istrinya Hj. Johariah dan Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Majid (Ketua Umum PB NW sekarang) terlahir dari wanita keturunan ulama asal Jenggik Lombok Timur, Hj. Rahmatullah. Dari kedua putri tersebut terlahir 12 orang cucu laki dan perempuan. Dan sebagai seorang ulama besar tentu merindukan seorang pengganti yang akan meneruskan perjuangannya membesarkan organisasi. Dari semua cucunya, Zainuddin Atsani, satu-satunya cucu yang diberikan gelar Tuan Guru Bajang oleh Al-Maghfurlah Maulana Syaikh. Bahkan gelar tersebut diberikan sejak Zainuddin bisa berjalan dalam usia 9 bulan. “Ia dipangil Tuan Guru Bajang oleh Tuan Guru ( Maulana Syaikh) sejak baru bisa berjalan, dan usianya baru 9 bulan” tutur Ummi Hj. Rahmatullah istri Maulana Syaikh yang masih hidup. Sejak itulah Zainuddin Atsani dikenal sebagi Tuan Guru Bajang oleh masyarakat. Dan mendapat perlakuan yang cukup positif dari jamaah. Bahkan Maulana Syaikh pernah berbicara dihadapan jamaah pengajian “Mele mek gitak aku ke? Mek gitak wah tuan guru bajang. Iye wah foto kopian-ku” (mau kalian lihat saya? Kalian lihat sudah tuan guru bajang. Dia sudah foto kopian/duplikat saya).

Maulana Syaikh terkenal memiliki tingkat keilmuan yang tinggi, yang tentu tidak mudah mengambil keputusan untuk memberikan gelar pada seseorang. Bukan lantaran Zainuddin Atsani adalah seorang cucu, namun karena Zainudin Atsani memang telah memiliki keunikan tersendiri sejak masih dalam kandungan, buktinya dari 7 cucu laki-laki tidak satupun dari mereka diberi gelar Tuan Guru Bajang kecuali Tuan Guru Bajang Zainuddin Atsani.

Rupanya gelar Tuan Guru Bajang yang diberikan pada cucunya ini merupakan motivasi awal perkawinan antara Maulana Syaikh dengan istrinya Hj. Rahmatullah yang konon satu-satunya istri yang dipilihkan oleh orang tua Maulana Syaikh, TGH. Abdul Majid. Karena Hj. Rahmatullah ini keturunan seorang ulama dengan harapan agar keturunannya nanti bisa melahirkan seorang ulama pula. “Sejak saya berumur 10 tahun orang tua Tuan Guru (TGH. Abdul Majid) sudah membicarakan dengan orang tua saya untuk menikahkan saya dengan tuan guru. Padahal pada saat itu saya tidak pernah berfikir untuk menikah, saya bilang sama TGH. Abdul Majid bahwa saya tidak akan menikah sampai tua” tutur Hj. Rahmatullah.

Baru setelah Hj. Rahmatullah berumur 20 tahun dinikahkan dengan Maulana Syaikh dan setelah 15 tahun usia perkawinan baru dikaruniai seorang putri, Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Majid (ibunda Tuan Guru Bajang KH. Lalu Gede M. Zainuddin Atsani). Pada saat Hj. Sitti Raihanun mengidam anak-anaknya, Hj. Rahmatullah selalu mendapatkan firasat dan pertanda bahwa Hj. Sitti Raihanun akan hamil, “setiap anakku, Hj. Sitti Raihanun hamil selalu dijaga sama ular dan selalu saya bermimpi dan melihat sesuatu” tuturnya. Namun yang aneh, katanya, pada Zainuddin Atsani, dia tidak melihat apa-apa dan tidak dijaga ular seperti cucu-cucunya yang lain. Ternyata pertanda kehamilan itu diketahui oleh Maulana Syaikh. Kala itu Maulana Syaikh memerintahkan Hj. Rahmatullah untuk membuka semua jahitan pakaian Hj. Sitti Raihanun. “Saya disuruh untuk melepaskan semua jahitan pakaian yang biasa dikenakan Hj. Sitti Raihanun untuk disimpan, Raihanun akan hamil tolong lepaskan semua jahitan pakaian yang dikenakannya dan disimpan” tutur Hj. Rahmatullah meniru perkataan suaminya.

Zainuddin Atsani lahir pada tanggal 6 Januari 1981 di Rumah Desa (Gedeng Dese) yang juga tempat lahirnya Maulana Syaikh. Beliau terlahir dari pasangan Drs. H. Lalu Gede Wiresentane – Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid (putri bungsu Maulana Syaikh). Ketika itu, Zainuddin Atsani lahir dalam keadaan bersih tanpa darah. Maulana Syaikh langsung menimangnya sambil memperhatikan seluruh badan cucunya. Hal ini berlangsung selama beberapa hari sebelum diberikan nama. Tidak lama kemudian Hj. Rahmatullah dipanggil Maulana Syaikh, “ni wah pengentikku, iye taok jak turunan aranku, Zainuddin Atsani ye jari aranan” (ini sudah yang akan menggantikan saya, dialah tempatnya akan turun nama saya, Zainuddin Atsani itulah jadi namanya) tutur Hj. Rahmatullah lagi-lagi menirukan perkataan Maulana Syaikh.

Oleh Maulana Syaikh, Hj. Rahmatullah diminta untuk menyampaikan kepada Hj. Sitti Raihanun “Badaq Sitti Raihanun, ni wah penggentikku, Zainuddin Atsani iye arane. Suruk Sitti Raihanun badaq Wiresentane” (Beritahu Sitti Raihanun, ini sudah penggantiku, Zainuddin Atsani itulah jadi namanya. Suruh Sitti Raihanun memberitahu Wiresentane). Setelah Drs. H. Lalu Gede Wiresentane mendapat pesan dari Maulana Syaikh, beliau menjawab “Napi-napi pekayun Maulana Syaikh, tiang terima dengan ikhlas” (Apapun yang disampaikan oleh Maulana Syaikh, saya terima dengan ikhlas). Hal ini menunjukkan ketaatan dan kehormatan Drs. H. Lalu Gede Wiresentane kepada Maulana Syaikh. Akhirnya putra Drs. H. Lalu Gede Wiresentane diberikan nama Muhammad Zainuddin Atsani. Akan tetapi karena Drs. H. Lalu Gede Wiresentane merupakan keturunan bangsawan dari Bonjeruk, maka ditambahkanlah kata “Lalu” dan “Gede”, sehingga menjadi Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani.

Dalam setiap kesempatan, Maulana Syaikh selalu memanggil Zainuddin Atsani dengan panggilan “Tuan Guru Bajangku”, “Zainuddin Atsaniku”, dan “Atsaniku”. Bahkan Maulana Syaikh mempercayakan keturunan Zainuddin Atsani yang akan mewarisi nama Zainuddin selanjutnya. Keturunan Zainuddin Atsani yang laki nantinya akan menjadi Zainuddin Atsalits (Zainuddin ke tiga) dan seterusnya. Nama Tuan Guru Bajang mulai dikenal dikalangan jamaah NW saat dirinya selalu diikutkan pengajian-pengajian pada saat usia balita hingga beranjak remaja. Bahkan Tuan Guru Bajang kerap kali menggantikan kakeknya menghadiri pengajian. Bila sang kakek berhalangan hadir, walaupun masih kecil kerapkali menggantikan niniknya mengadiri pengajian, dia cukup duduk saja dan pengajian diisi oleh Masyaikh Ma’had. “Para jamaah merasa cukup antusias dengan kehadiran Zainudin Atsani yang masih kanak-kanak, yang hanya sekedar duduk menggantikan kakeknya”, kata Ust. Asror yang pernah menghadiri suatu pengajian yang diwakili Zainuddin Atsani.

Hingga menjelang wafatnya Maulana Syaikh, Tuan Guru Bajang banyak mendapatkan wasiat yang bersifat khusus dalam upaya meneruskan perjuangan kakeknya membesarkan organisasi NW untuk umat dan masyarakat.

Pembangunan MAK Pancor

Suatu ketika, disaat persiapan pembangunan MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) di Pancor, H. Muksin Makbul menghadap kepada Maulana Syaikh untuk menyampaikan dana pembangunan MAK di Pancor. Pada saat itu, Maulana Syaikh dalam bahasa Sasak mengatakan “Wah anta laporan tipak tuan guru bajang? Lapor juluk ito, dait berunding kanca tuan guru bajang!” (Sudah anda melaporkan ke tuan guru bajang? Lapor dulu sana, dan berdiskusi dengan tuan guru bajang!).

Peristiwa Kebon Ayu

Pada suatu ketika, Maulana Syaikh akan mengadakan pengajian sekaligus meresmikan sebuah madrasah di desa Kebon Ayu – Gerung – Lombok Barat. Akan tetapi, oleh Bupati Lombok Barat, yang pada saat itu dijabat oleh H. L. Mujitahid, Maulana Syaikh dilarang mengadakan pengajian di desa Kebon Ayu dengan alasan orang-orang Kebon Ayu tidak setuju. Akan terjadi keributan jika sampai Maulana Syaikh mengadakan pengajian. Kebetulan tokoh penentang itu bernama Amaq Ribut. Untuk membahas masalah ini, Pengurus Daerah NW Kabupaten Lombok Barat dipanggil oleh Bupati Lombok Barat. Hadir dalam pertemuan itu antara lain Bupati, Muspida, Dandim, serta Kapolres Lombok Barat. Dihadapan peserta yang hadir, Bupati mengatakan agar Maulana Syaikh jangan sampai pergi ke Kebon Ayu untuk menghadiri pengajian tersebut, dan tidak akan bertanggung jawab terhadap keselamatan Maulana Syaikh jika sampai terjadi apa-apa di Kebon Ayu.

Akan tetapi, pada hari-H, Maulana Syaikh tetap berangkat ke Kebon Ayu. Bersama rombongan, Maulana Syaikh berangkat dari rumah Pajang. Beberapa orang yang turut serta dalam mobil rombongan Maulana Syaikh diantaranya Drs. H. Alidah Nur, H. Sulaeman, H. Yahya, H. Sabir, H. Mustafa dan Tuan Guru Bajang yang duduk dalam pangkuan Maulana Syaikh. Pada saat itu, Tuan Guru Bajang masih sangat kecil.

Dalam perjalanan ke Kebon Ayu, terlihat disepanjang jalan penjagaan sangat ketat. Tentara disebar sepanjang jalan setiap kurang lebih 40 meter. Hal ini dilakukan agar jangan sampai Maulana Syaikh sampai ke Kebon Ayu. Begitu pula dengan orang-orang yang berkendara/berjalan ke arah Kebon Ayu, yang menggunakan peci ataupun pakaian seakan-akan pergi pengajian, pasti akan dicegat oleh aparat yang berjaga. Akan tetapi, berkat kekeramatan Maulana Syaikh dan atas pertolongan Allah SWT, tidak ada satupun aparat dan Muspida (yang berjaga disepanjang jalan) melihat mobil Maulana Syaikh. Sesampainya Maulana Syaikh dilokasi pengajian, jamaah bertangisan karena menyangka Maulana Syaikh tidak akan datang karena situasi yang sedang genting. Dihadapan jamaah pengajian, Maulana Syaikh sambil memangku Tuan Guru Bajang, berulang-ulang kali mengatakan “kacang arane ine, lemak lamun uwah beleq tuan guru bajang sine, mesak-mesakne ngadepin sak ngene-ngene” (kacang namanya ini, besok kalau sudah besar tuan guru bajang ini, sendirian dia akan menghadapi yang seperti ini).

Malam Wafatnya Maulana Syaikh

Pada malam wafatnya Maulana Syaikh (maghrib, malam rabu), duduk dihadapan pembaringan Maulana Syaikh, Drs. H. Lalu Gede Wiresentane, H. Maksum, dan Drs. H. Alidah Nur. Sedangkan Tuan Guru Bajang yang kala itu tengah beranjak remaja, duduk disamping pembaringan Maulana Syaikh hingga larut malam. Tiba-tiba Hj. Rahmatullah (Ninik Tuan Guru Bajang) memanggil Tuan Guru Bajang “Gede wah jauk malem ne, bekelor juluk jauk malem ne” (Gede sudah larut malam ini, makan dulu sudah larut malam ini). Lantas Tuan Guru Bajang menjawab “Nggih, masih ne tiang ngantih juluk, masih ndekne man” (Iya, masih ini saya menunggu dulu, masih belum), tanpa sedikitpun beranjak dari pembaringan Maulana Syaikh.

Menurut penuturan saksi mata yang hadir pada saat itu, posisi duduk Tuan Guru Bajang di samping pembaringan Maulana Syaikh, Tuan Guru Bajang duduk dengan menekukkan kaki kebelakang (seperti posisi tahiyat awal) sembari mendekatkan mukanya berhadap-hadapan dengan muka Maulana Syaikh. Dan beberapa kali kaki Maulana Syaikh terlihat bergerak-gerak.

B. Riwayat Pendidikan

Riwayat pendidikan Raden Tuan Guru Bajang KH. Lalu Gede M. Zainuddin Atsani Lc., M.Pd.I. juga sama dengan riwayat pendidikan Maulana Syaikh sebagai alumnus Madrasah As-Shaulatiyah Makkah Al-Mukarramah pada tahun 2007. Gelar Lc diraih di Universitas Jami’atul Ulum Waa Technologyiah Yaman, Jurusan Syari’ah Islamiyah pada tahun 2007. Pada tahun 2011, beliau berhasil meraih gelar Magister Pendidikan Islam di Universitas Darul Ulum Jombang. Dan saat ini, beliau sedang menempuh pendidikan S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

C. Kiprah Raden Tuan Guru Bajang

Sebagai tokoh sentral organisasi dalam mengembangkan organisasi Nahdlatul Wathan, Raden Tuan Guru Bajang KH. Lalu Gede M. Zainuddin Atsani mendapatkan kepercayaan di berbagai posisi penting, antara lain;

  1. Penasehat Ikatan Pelajar Nahdlatul Wathan Kabupaten Lombok Barat tahun 1995,
  2. Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Nahdlatul Wathan Makkah tahun 2001-2007,
  3. Wakil Ketua Yayasan Al-Masyhur NW Praya tahun 2007 – sekarang,
  4. Pimpinan KBIH NW Mataram tahun 2009 – sekarang,
  5. Wakil Ketua Yayasan Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani tahun 1999-2011,
  6. Sekretaris Persatuan Alumni As-Shaulatiyah NW (PAS NW) tahun 2011 – sekarang,
  7. Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani tahun 2011 – sekarang,
  8. Rektor IAIH NW Lombok Timur tahun 2012 – sekarang,
  9. Ketua Pengurus Wilayah NW NTB periode 2012-2017.

Kehadiran Raden Tuan Guru Bajang KH. Lalu Gede M. Zainuddin Atsani dalam melanjutkan perjuangan Al-Maghfurlah dalam membesarkan organisasi membuat jamaah NW merasa memiliki kekuatan baru. Bagi beliau, organisasi NW merupakan amanah yang harus tetap dijaga dan dikembangkan sesuai dengan khittah yang telah ditetapkan Al-Maghfurlah. “Saya berharap warga NW tetap bersatu merapatkan barisan dibawah ketua umum PB yang sah, Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Majid, sesuai wasiat ninik. PB itu satu bukan dua atau tiga, itu yang harus kita pegang teguh sebagai warga NW” ingat Tuan Guru Bajang KH. Lalu Gede M. Zainuddin Atsani dalam setiap pengajiannya.

Hadirilah Adz-Dzikrol Hauliyah Ma’had Darul Qur’an Wal-Hadits NW yang ke-47 di Anjani Lombok Timur.

Hari/Tanggal: Ahad, 24 Juni 2012 – pukul 08.00 Wita.
Tempat: Lapangan Masjid Darul Qur’an Walhadits NW – Kompleks Ponpes Syaikh Zainuddin NW Anjani Lombok Timur.

__________________________

Hadirilah HULTAH NWDI ke-77, pada hari Ahad, 08 Juli 2012. Bertempat di lapangan masjid Darul Qur’an Walhadits NW – Kompleks Ponpes Syaikh Zainuddin NW Anjani Lombok Timur.

Mataram, MATARAMnews – Agenda lima tahunan PW NW NTB, dilaksanakan untuk memilih ketua dan jajarannya, serta merumuskan program lima tahun kedepan yaitu, periode 2012-2017. Muswil NW NTB ke XII kali ini mengambil tema “Kita Lanjutkan Perjuangan Almagfurullah Maulana Syekh TGKH. Zainuddin Abdul Majid menuju Pendidikan, Sosial dan Dakwah Yang Berkwalitas”.

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari yaitu 6 hingga 7 April 2012, bertempat di salah satu hotel di Kota Mataram. Dihadiri Ketua Umum PB NW Ummi Hj. Siti Raihanun ZAM, Sekjen PB NW DR. HL. Abd Muhyi Abidin, MA yang sekaligus ketua Partai Gerindra NTB, Irjen Pol HL. Suprapta, Pejabat Kanwil Kemenag NTB, para Tuan Guru dan ratusan peserta Muswil NW NTB.

Dalam sambutannya Pejabata Kanwil kemenag NTB mengatakan “NW dari dulu tak diragukan lagi kiprahnya di NTB dan ini patut diberikan penghargaan karena sejak berdiri telah memajukan dunia pendidikan di NTB. Khususnya pendidikan swasta di NTB, NW mendirikan madrasah-madrasah tanpa mengahrapkan biaya yang begitu banyak, namun seadanya bisa berdiri dan berkembang terus menerus untuk memberikan pendidikan kepada anak didiknya.

“Atas nama Kanwil Kemenag NTB kami menyambut gembira dilaksanakannya Muswil NW NTB ke XII dan semoga mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin yang memiliki visi dan misi kedepannya, dan apa yang menjadi arahan dan bimbingan ummi Hj. Siti Raihanun ZAM itulah yang harus kita patuhi dan ikuti,” harapnya.

Ketua Umum PB NW Ummi Hj. Siti Raihanun ZAM mengatakan “NW merupakan Ormas yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan dakwah, NW hingga kini sudah berkembang pesat kepenjuru nusantara. Selama tahun 2012 PB NW telah berkunjung dan melaksanakan enam kali melaksanakan peletakan madrasah-madrasah NW yang ada di Sulawesi, Kalimantan dan di daerah-daerah lainnya.

Jadi, lanjutnya, Muswil NW NTB saat ini sebagai agenda evaluasi dan pertanggung jawaban selama lima tahun periode sebelumnya, dan juga memilih ketua, pengurus periode selanjutnya serta merumuskan program-program kerja kedepannya untuk kepengurusan yang terbentuk. Dan semoga menghasilkan keputusan-keputusan yang membawa NTB ini lebih maju, waktunnya bukan saja dua puluh empat jam melainkan tiga puluh jam untuk bekerja dan melanjutkan pengembangan NW. “Sebagai pemimpin harus memiliki etos kerja yang baik terutama di NTB ini,” harapnya.

Sementara, DR. HL. Abd Muhyi Abidin MA mengatakan “menumbuhkan rasa optimis didalam organisasi NW terus kita kembangkan, kami yakin dengan hasil Muswil NW NTB ini dan dimandatkan sesuai dengan keputusan-keputusan bersama. NW ormas religius dan hal yang menjadi  standar kepemimpinan harus memiliki visi yang religius dan bisa maju seiring dengan perkembangan zaman. “Kalaupun nanti para calon yang bermunculan ini mengerucut menjadi beberapa saja, seandainyapun aklamasi juga bagian dari demokrasi,” pungkasnya.

Sedangkan, kehadiran Irjen Pol HL. Suprapta di acara Muswil NW NTB XII atas undangan pihak keluarga. “kami hadir atas undangan keluarga,” ujarnya.

Dari pantauan media ini terhadap proses sidang Muswil cukup alot dan demokratis. Sehingga sidang Muswil mengasilkan pemilihan secara aklamasi kepada ketua PW NW NTB periode 2012-2017 terpilih, TGB. HL Gede Zainuddin At-Tsani Lc, dengan mendapat suara dari peserta Muswil sebanyak 130 suara.

Disisi lain, saat sidang salah satu peserta mengusulkan agar ada keputusan secara politik terkait Pilkada NTB yang akan dilaksanakan tahun 2013,  bahkan tidak tanggung-tanggung langsung mengusulkan nama DR. HL. Abd Muhyi Abidin, MA sebagai kandidat bakal calon Gubernur NTB.

Akan tetapi sidang yang dipimpin oleh Prof. DR. H. Said Agil Al-Idrus dan empat anggota lainnya memberikan kepada para peserta untuk dibahas persoalan bakal calon Gubernur NTB ini melalui mekanisme pleno di komisi khusus yang dibentuk, selanjutnya akan kita putuskan melalui sidang.

Sumber: MataramNews

TGB L. Gede M. Zainuddin At SaniMaulana Syekh Zainuddin Abdul Majid terkenal memiliki tingkat keilmuan yang tinggi tentu tidak mudah mengambil keputusan memberikan gelar pada seseorang. Hanya lantaran hubungan darah atau karena kecintaannya kepada seseorang, melainkan adanya ketajaman spiritualitas yang dimiliki.

Almagfurullah Maulana Syekh Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan satu satunya organisasi yang lahir di NTB, dengan segenap kemampuan dia membina dan berjuang sehingga perkembangan organisasi tersebut seperti sekarang ini.Continue reading

Tuan Guru Bajang Zainuddin Atsani

Tuan Guru Bajang KH L.G. M. Zainuddin Atsani

Dikalangan Organisasi Nahdlatul Wathan (NW) sudah tidak asing lagi nama Tuan Guru Bajang KH Lalu Gede Zainuddin Atsani. Sebuah nama yang mewarisi nama pendiri NW Almagfurulah Maluna Syaikh Zainuddin Abdul Majid. Penamaannya memang dihajatkan sebagai penerus perjuangan dalam membesarkan organisasi islam  terbesar di  NTB. Beliau lahir 6 Januari 1981 di tempat kelahiran kakeknya, Rumah Desa (Gedeng Dese).

Beliau terlahir dari pasangan, Drs. H.L.G. Wiresentae – Hj St Raihanun Zainuddin AM, putri bungsu maulanasyaikh. Waktu lahir yang memberikan nama beliau adalah maulansyaikh sendiri ddengan nama Zainuddin Atsani, dengan harapan kelak kalau sudah dewasa bisa menggatikan posisinya untuk membimbing ummat dan melanjutkan perjuangan organisasi NW. Dari sejak itu beliau selalu dipanggil Tuan Guru Bajang kendati usiannya sangat belia. Maulanasyaikh pada setiap pengajian, beliau selalu menyebut Zainuddin Atsani dengan sebutan Tuan Guru bajang. Sejak saat itulah nama Tuan Guru Bajang dikenal dikalangan warga NW dan masyarakat Lombok pada umumnya. Tak ada yang tidak mengenal sosok Tuan Guru bajang Zainuddin Atsani. Pada masa kecilnya selalu dalam bimbingan sang kakek. Tidak heran kemudian kalau putra dari PB NW, Umuna Hajjah Siti Raihanun Zainuddin Abdul Majid, tumbuh dan berkembang sebagaimana kakeknya.Continue reading

Sekembali dari Tanah Suci makkah ke Tanah Air Indonesia mula-mula beliau mendirikan pesantren Al Mujahidin pada tahun 1934 M. kemudian pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H./ 22 Agustus 1937 M. beliau mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Madrasah ini khusus untuk mendidik kaum pria. Kemudian pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 H/21 April 1943 M. beliau mendirikan madrasah Nahdlatul Banat diniah Islamiyah (NBDI) khusus untuk kaum wanita. Kedua madrasah ini merupakan madrasah pertama di pulau lombok yang terus berkembang dan merupakan cikal bakal dari semua madrasah yang bernaung di bawah Organisasi Nahdlatul Wathan. Dan secara khusus nama madrasah tersebut diabadikan menjadi nama Pondok Pesantren Daurun Nahdlatain Nahdlatul Wathan. Istilah “Nahdlatain” diambil dari kedua madrasah tersebut.Continue reading